Senja di Rawa Jombor

Senja selalu bisa datang di mana saja, tak terkecuali di rawa jombor, sebuah rawa yang terletak di desa krakitan (dahulu bernama desa jombor) yang konon katanya rawa ini salah satu bendungan peninggalan Sinuwun Paku Buwono ke-X bersama dengan Pemerintah Belanda, aku pernah kesana, walau hanya sekali.

Memang rawa ini tak ubahnya seperti rawa pada umumnya, rawa tetaplah rawa, namun jika ada yang bertanya apakah aku mau kesana lagi? tentu aku jawab dengan iya, tanpa perlu banyak alasan mengapa aku harus kesana lagi.

Seperti yang kukatakan tadi, aku pernah kesana walau hanya sekali, tapi dalam kunjungan pertama inilah aku mengenal senja dalam bentuk yang berbeda, dalam bayang yang nyata dan dalam suasana yang tak biasa pula.

Ingin suatu hari aku mengajakmu kesana, untuk sesekali merasakan kehidupan diatas rawa ini, atau apabila merasakan terlalu naif terdengar mungkin lebih tepatnya melihat kehidupan disana. Aku juga tak bisa menjelaskan mengapa kita meski kesana? atau mungkin agar kita tahu betapa membosankannya kota yang kita jajaki. Ahh, atau barangkali karena memang sudah betapa membosankannya kota, jadi kadang kita menemukan ketenangan hanya dengan melihat senja di pusaran rawa.

Tapi yang jelas senja selalu mempunyai wujudnya dalam berbagai rupa. Dan rawa bisa memberikan ketenangannya padamu dengan sederhana.

Eko Syamsudin di Rawa Jombor Klaten Saat Senja

Rawa dan senja menuntunku bercerita.

Eko Syamsudin di Rawa Jombor Klaten

Rawa dan senja menuntunku pulang.

Dan senja pun akhirnya berpulang laksana yang bernyawa, entah kemana aku tak tahu pasti. Tapi kita boleh menyebutnya rumah.