Mencari Kesempurnaan

Eko Syamsudin di Gunung Sindoro, Setitik tanah Surga di Indonesia

Engkau bertanya padaku, saudaraku, “Kapankah manusia akan mencapai kesempurnaan?”

Dengarkan, aku menjawab,

Manusia mendekati kesempurnaan tatkala ia merasakan bahwa dialah ruang keterbatasan dan laut tanpa pantai, sebuah api keabadian, cahaya yang tak terpuaskan, sebuah angin yang tenang atau prahara yang mengamuk, langit yang bergemuruh atau surga yang di penuhi hujan.

Sebuah senandung atau ratapan anak sungai, pohon yang berbunga di Musim Semi, atau anak pohon yang telanjang di Musim Gugur.

Sebuah pendakian gunung atau menuruni lembah, sebuah dataran subur atau padang pasir. Ketika manusia merasakan semuanya ini, ia telah siap mencapai separoh jalan menuju kesempurnaan. Dalam mencapai tujuannya ia harus merasa bahwa dialah seorang anak yang tergantung pada ibunya, seorang ayah yang bertanggung jawab pada keluarganya.

Seorang pemuda yang kehilangan cinta. Sebuah pergulatan masa silam melawan masa lalunya, sebuah peribadatan di dalam kuil, sebuah kejahatan dalam penjaranya, suatu kaum terpelajar di tengah-tengah perkamennya, sebuah dungu tersandung di antara kegelapan malamnya dan ketakjelasan siangnya.

Seorang biarawati yang menderita di antara kembang-kembang imannya dan tumbuh berduri dalam kesendiriannya.

Seorang pelacur tersedan-sedan di antara gigi-geligi kelemahannya dan cakar-cakar kebutuhannya. Seorang lelaki miskin terjerat di antara kebencian dan ketundukannya. Seorang pria kaya di antara kerakusan dan kesadarannya. Seorang Pujangga di antara halimun senja dan fajar ufuknya.

Siapa yang memperoleh pengalaman, pandangan, dan pengertian tentang segala sesuatu ini dapat mencapai kesempurnaan dan menjelma sebuah bayangan dari manifestasi Tuhan.

- Nabi dari Libanon, Hal 151 – 153

Senja (Sunrise) di Gunung Sindoro, Setitik tanah Surga di Indonesia

Senja di Gunung Sindoro, setitik tanah Surga di Indonesia

Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan? Senja (Sunrise) di Gunung Sindoro, Setitik tanah Surga di Indonesia.

Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?

Agus - Eko Syamsudin - Husein - Rully Adam Dalyono - Abang - Rahmad Amri Hasbullah (Ucok) di Puncak Gunung Sindoro, Setitik tanah Surga di Indonesia

Agus – Eko Syamsudin – Husein – Rully Adam Dalyono – Abang – Rahmad Amri Hasbullah (Ucok)

Terima kasih saudaraku, sudah menemaniku berjalan menapaki kehidupan, menemaniku berdiri tegap di sini, di Puncak Keindahan, setelah kita melewati kerasnya batu cadas kehidupan, keringnya air mata kehidupan, dan semoga kalian tetap ingat bahwa ini pendakian kita di Puncak Kemenangan, yaitu di suasana hari indah nan suci, Idul fitri 1434 H.